Selasa, 08 Desember 2009

ada gunung yang ramai kayak di kota


Bagi sebagian penduduk kota Malang dan Jawa Timur, Gunung Kawi diyakini sebagai daerah tujuan wisata religius untuk mencari rezeki sekaligus kemakmuran.

Berada di ketinggian 2.860 meter dpl, Gunung Kawi tak pernah sepi pengunjung. Di kaki gunung ini, tepatnya di tengah kota Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, terdapat pesarean (pemakaman) yang sangat terkenal, bahkan hingga ke mancanegara, yakni Pesarean Eyang Kyai Zakaria II atau Eyang Djoego dan Raden Mas Imam Soedjono atau Eyang Soedjo.

Konon, keduanya adalah pengikut setia Pangeran Diponegoro yang berhasil selamat dari peperangan melawan kompeni Belanda, dan kemudian menetap di Gunung Kawi hingga akhir hayatnya.

Memasuki kawasan pesarean, pengunjung disambut gapura selamat datang 'Pendopo Pesarean Agung' berbentuk seperti candi lengkap dengan aksara Jawa di bagian atasnya. Bagian depan dinding gapura kanan dan kiri terdapat lukisan timbul yang menceritakan aktivitas Eyang Djoego dan Eyang Soedjo semasa hidup, lengkap dengan tahun keberadaan mereka, tahun 1871.

Yang menarik, masih di gerbang pesarean, pengelola juga dipasang papan pengumuman berisi jadwal kunjungan. Ada empat jadwal kunjungan, yakni pagi, siang, malam, dan tengah malam. Jadwal kunjungan pagi dimulai pukul 08.00, siang 14.00, dan malam 19.00. Sementara jadwal berkunjung dan berkeliling pesarean tengah malam dibatasi hanya satu jam dari pukul 24.00.

Selain ziarah di makam kedua bangsawan Yogyakarta itu, di kawasan pesarean juga terdapat dua tempat kunjungan yang sangat dikultuskan etnis Tionghoa, yakni kediaman Tan Kie Lam dan Kuil Dewi Kwan Im.

Mpek Lam—sapaan Tan Kie Lam—adalah warga Tionghoa yang merupakan murid kesayangan Eyang Soedjo. Itu sebabnya, meski Mpek Lam telah meninggal 44 tahun lalu, kawasan Pesarean Gunung Kawi, terutama Kuil Kwan Im dan kediaman Mpek Lam, menjadi tempat tujuan warga keturunan Tionghoa.

Bahkan, kehadiran mereka sangat dominan dibanding etnis lainnya. Pluralitas agama ini terlihat sangat harmonis. Ini bisa diwakili dengan letak Masjid Imam Soedjono yang berdiri tak jauh dari Kuil Kwan Im.

Selain lokasinya yang dekat dengan masjid, keberadaan kuil itu tampak mencolok dengan lilin raksasa sebagai simbol dari Ti Kong. Lilin jumbo itu tampak mewah berada di lantai kuil berbahan batu granit. Namun, yang paling menarik dari kuil itu adalah patung Dewi Kwan Im berwarna emas berbahan dasar perunggu setinggi delapan meter yang diletakkan di ruang khusus di depan tempat lilin Ti Kong.

Setiap hari kediaman Mpek Lam maupun Kuil Dewi Kwan Im tak pernah sepi pengunjung. Selain berziarah, para pengunjung umumnya mempunyai satu tujuan: ngalap berkah (mencari kemakmuran). Bahkan pada hari-hari tertentu jumlah pengunjung bisa berlipat-lipat, mengikuti penanggalan Jawa dan China, seperti Jumat Legi, Hari Raya Imlek, dan perayaan Tahun Baru Jawa atau bulan Suro.

Kebetulan di bulan yang diyakini sebagai bulan keramat, tepatnya tanggal 12 Suro atau 9 Januari lalu, diperingati warga Wonosari sebagai haul (hari meninggalnya) Eyang Soedjo. Saat ngalap berkah, para peziarah biasanya menjalani ritual tertentu yang mereka yakini. Setelah itu mereka mencari tempat di sekitar kawasan Pesarean Gunung Kawi untuk menyepi.

Yang paling menarik adalah berjibunnya pengunjung duduk di bawah pohon dewandaru. Konon, saat kepala kejatuhan daun dewandaru, keinginan bisa terwujud.

Pengunjung yang tak pernah sepi di Pesarean Gunung Kawi, memberi berkah tersendiri bagi warga Wonosari. Kecamatan di sebelah barat Kabupaten Malang itu berkembang pesat. Penginapan dan hotel tumbuh subur di sepanjang jalan menuju pesarean. Tak ketinggalan kios-kios suvenir khas Gunung Kawi.

Oleh-oleh kuliner asli adalah telo (ketela) Gunung Kawi. Bentuknya sangat kecil memanjang seperti ibu jari. Berwarna ungu tua. Bila dimasak terutama dengan cara dikukus, rasanya sangat manis seperti madu. [mor]#.inilah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar